Showing posts with label Jakarta's Phenomenon. Show all posts
Showing posts with label Jakarta's Phenomenon. Show all posts

Monday, 5 January 2009

Saturday Night With Jakarta

One of the advantages living in Jakarta city is : you don’t need a boyfriend to have a date on Saturday night. You can do everything all alone with your own way. You can have your own fine dinner, catch a movie, or even take a look on some new magazine on a book store.

You also can call up a random friend (or a best friend will make it good), and make a spontaneous plan. Midnight shopping is one of good ways how to spend your fabulous Saturday night. All you have to prepare are Money, cell phone, a high comfortable yet fashionable clothes, and for sure a pair of good shoes (since it will take you to good places too).

Money: it’s the core of your Saturday night’s activity. With cash (please say no to credit cards), you can have variety of activities. For example, first you go for dinner, then you shop and stop for some shot, and continuing your shop (or even just window shop) till you get drop ( I know this rhyme seems so disgusting). Karaoke also seems so okay for your activity. Listening to live music in one fine lounge, window shopping, or a silent coffee time with book, are filling my Saturday nights puurfeectttly.

Cell phone is one of the important things. It will help you to check who’s available that night, to call up some random friends, and to call a cab when you seem so impossible to walk along the road and stop one (for some reason: you might be get drunk, get too full with your meal, or you might lose your energy to lift your new things from the boutique).

A high comfortable yet fashionable clothes will help you to feel better in two ways. First it will go up with you as you walk on the road, as you dance with your own rhyme, as you try on new clothes in a fitting room, and as you have a grand dinner, it will hide your sudden big belly (and make you look skinny). Second, people will never take their eyes off of you since it’s highly in fashion. You will feel so much better since it’s beautiful and painless (for your body).

A pair of good shoes will go with you along your beautiful journey on Saturday night. It wont hurt your feet when you run for the 75% discount in the corner boutique. It wont make you slip as you walk slightly passing a cute guy in a lounge. And it will make you look gorgeous when it’s match with your clothes.

So, there’s no reason you sit alone at your home and doing nothing but cry/ think hard / watch romantic desperate movies/ eat a bucket of chicken wings and ice cream/ spoil your parents’ night (you pick one of these desperate activities) on Saturday night, just because you don’t have a ‘date’ (boyfriend). With money, cell phone, clothes, shoes, and of course the city, you can have a beautiful date on Saturday night.( See? Boyfriend is not the only way to have a date on Saturday night) . Oo I love this city!

Saturday, 12 July 2008

Jembatan Cinta Jakarta Selatan

Sepasang high heels hitam mungil menuntun saya menyusuri sebuah jembatan penyeberangan di kawasan Jakarta Selatan. Tas hitam senada yang tergantung di pundak berayun seirama dengan langkah kaki saya. Ada banyak orang berlalu lalang di sana. Pria, wanita, tua, muda, maupun anak-anak, berjalan di atas jembatan yang terbuat dari besi baja. Jembatan itu juga dipenuhi dengan berbagai aktivitas. Ada yang sedang merokok, berjualan, mengobrol, sampai berlari kecil terburu-buru, dan semuanya dilakukan di atas jembatan itu. Uniknya, selama kaki kecil saya bergegas menyusuri kurang lebih 36 meter hamparan besi melayang itu, saya dapat melihat lima jenis cinta.

Cinta pertama yang saya lihat berada di anak tangga ketiga.Jenis cinta itu adalah cinta pada diri sendiri. Saya terjebak di antara pertemuan dua arus. Arus turun dan arus naik. Orang-orang berdesak-sedakan, berebut antara mereka yang mau naik, dan mereka yang hendak turun. Bahu-bahu saling berhimpitan, tidak ada satu pun manusia yang saling melempar senyum. Semuanya berdesak-desak ingin segera naik ataupun turun. Tidak ada yang mau mengalah, apalagi memberikan jalan pada mereka yang berjalan berlawanan. Pemuda-pemudi yang berjalan sambil merokok menambah polusi udara, setelah polusi suara yang timbul akibat bunyi derap langkah kaki para pengguna jembatan penyebrangan yang tidak seirama. Tidak ada yang peduli bahwa sekedar merokok, ataupun meludahkan permen karet dapat merugikan orang di sekitarnya. Yang mereka pedulikan hanyalah bagaimana MENCAPAI TEMPAT TUJUAN.

Akhirnya saya berhasil menaiki tangga tersebut dan sampai di atas jembatan sepanjang 36 meter itu. Tepat di pojok jembatan, ada seorang ibu peminta-minta yang duduk di atas hamparan koran yang sudah lecek halamannya. Di antara lalu lalang orang, Ia duduk tenang menyusui anaknya. Si bayi mungil tampak rakus melahap susu sang Ibu. Tangan si Ibu membelai-belai kepala anaknya, sambil mulutnya mendendangkan sebuah lagu yang sayup-sayup terdengar di telinga saya. Ini juga cinta, pikir saya. Cinta yang teramat besar, yaitu cinta ibu kepada anak.

Sepuluh meter sudah si sepatu hitam membawa saya pergi meninggalkan ibu pengemis dengan bayinya. Saya berjalan melewati lapak-lapak para penjual segala jenis barang. Dari kaos, CD, gambar tempel, poster, perhiasan warna perak dan servis tindik, bikin tato, sampai alat kebutuhan rumah tangga ada. Wah, ada juga orang yang berjualan di atas jembatan, kata saya terkesima dalam hati. Apalagi melihat berbagai jenis barang dan jasa yang ditawarkan, tak pernah sedikit pun terpikirkan oleh saya. Para pedagang itu menawarkan barang dagangannya dengan berbagai cara. Ada yang berteriak-teriak memanggil pelanggan sambil menyebutkan berbagai keunggulan produknya, ada juga yang menulis diskon 50% diatas barang dagangannya. Beberapa ibu-ibu dan gadis muda yang lewat di situ memeluk tas mereka erat-erat. Yah, cinta akan uang, akan barang dan harta yang dimiliki. Cinta itu sama-sama dimiliki baik oleh mereka yang lewat, maupun oleh mereka yang berdagang.

Tepat di tengah-tengah jembatan, saya berpapasan dengan sepasang manusia, pria dan wanita, yang berjalan bergandengan tangan. Mereka saling tersenyum dan saling menatap satu dengan lainnya. Langkah mereka tidak terburu-buru, warna baju cerah yang dikenakan menambah ceria aura pasangan itu. Kecupan kecil mendarat di atas kening sang wanita, dan ia pun tersenyum malu sambil menatap pasangannya. Tanpa banyak berpikir, ya, inilah jenis cinta yang keempat. Cinta pada lawan jenis. Perasaan nyaman yang datang ketika sedang bersamanya, dimana pun kita berada. Saya ingin melemparkan senyum pada pasangan yang berbahagia itu, tapi sepertinya mereka tidak menghiraukan keberadaan saya, mereka asik dengan dunia merah mudanya.

Saya akhirnya sampai di ujung jembatan penyeberangan. Tepat disudut perbatasan antara jembatan dan tangga, seorang bapak tua penjual cermin sedang menata barang dagangannya. Saya melihat bayangan diri saya di cermin itu. Sambil mulai menuruni tangga yang untungnya kali ini tidak disesaki orang, saya baru sadar ada satu jenis cinta lagi yang terdapat di sepanjang jembatan itu. Cinta bertepuk sebelah tangan.=)

(Pernah tersadar, cinta jenis apa yang anda miliki dalam perjalanan menuju ke sebuah tempat?)

Friday, 11 July 2008

Angin Jakarta

Akhir Juni, 2008

Jakarta berangin hari ini. Hembusan anginnya yang membawa debu menerpa wajah saya. Mata saya dimasuki debu-debu halus yang berasal dari jalan raya. Sambil berusaha melindungi mata dari terpaan debu, Saya berlari kecil menyusuri jalan perumahan menuju rumah. Langkah Saya melambat saat melewati kios penjual koran. Rupanya kasus korupsi seorang anggota DPR yang berkenaan dengan prostitusi kembali menjadi sorotan media cetak. Tidak sempat saya baca headlinenya, tapi yang pasti wajah anggota DPR suami penyanyi dangdut itu, terpampang menghiasi cover depan tabloid gosip. Sayup-sayup terdengar di telinga saya lagu romantis berbahasa Indonesia yang sampai saat ini belum diketahui jelas siapa penciptanya. Gosipnya, sang pencipta yang sekaligus menyanyikan lagu tersebut, telah mati bunuh diri karena cinta. Barang siapa yang mendengarkan lagu itu di malam hari, akan menemui ajal, setidaknya begitulah yang saya dengar dari dua orang anak SMA ketika saya sedang mengantri ATM beberapa hari yang lalu.

Sampai di rumah, saya langsung membuka laptop dan memeriksa kotak surat elektronik. Iseng-iseng saya googling lagu pengantar ajal itu. Lebih dari seratus entry yang muncul di layar komputer. Setiap artikel dalam blog sites anak-anak remaja mengatakan hal yang sama tentang lagu itu, bahkan ada yang memberikan kesaksian tentang kebenaran penjemputan ajal setelah mendengarkannya. Situs yang cukup terpercaya menampilkan sebuah artikel yang mengatakan bahwa lagu sederhana itu menjadi terkenal berkaitan dengan unsur cerita mistisnya yang tersebar baik lewat internet, maupun dari mulut ke mulut. CD bajakan yang memuat lagu mistis itu laku keras di pasaran. Menurut sebuah testimonial seorang penjual CD bajakan, dalam sehari Ia berhasil menjual lebih dari 100 keping CD tersebut. Di situs lain, Saya membaca artikel puluhan orang ataupun grup band, yang mengklaim lagu mistis ini sebagai lagu ciptaannya. Gosip di balik lagu cinta tersebut menjadi faktor utama penggerak keberhasilan lagu ini dipasaran, padahal jika kita dengarkan, lagu ini tidak ada bedanya dengan lagu-lagu cinta band manapun juga yang ada di Indonesia. Well, nampaknya angin yang berhembus di Jakarta, tidak hanya membawa debu dan menerpa wajah para pejalan kaki, tetapi juga membawa gosip mistis dan menerpa ratusan calon pembeli CD bajakan lagu mistis yang tidak jelas siapa penciptanya.